Penulis : Dr. Putu Dewi Puspitawati, S.H., M.M., M.Sos.
Halaman : 59 Halaman
No. ISBN : –
Penerbit : Media Akademi dan Undiksha Press
Tahun : April 2026
Dongeng pernah menjadi cahaya kecil di dalam rumah-rumah kita. la hadir tanpa listrik, tanpa layar, tanpa pengeras suara. Hanya suara manusia yang saling mendekatkan. Di dalamnya ada tawa, nasihat, ketakutan, keberanian, dan nilai-nilai yang ditanam tanpa paksaan. Dongeng adalah sekolah pertama sebelum anak mengenal bangku kelas.
Namun hari ini, perlahan kita menyadari sesuatu: suara itu mulai jarang terdengar. Bahasa daerah yang dulu mengalir alami dalam cerita, kini semakin jarang diucapkan. Anak-anak lebih mengenal tokoh animasi global dibanding pahlawan dalam kisah rakyatnya sendiri. Kita tidak sedang kehilangan cerita semata, kita sedang berisiko kehilangan cara memaknai hidup yang diwariskan turun-temurun.
Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Kegelisahan karena dongeng bahasa daerah kian terlupakan, seolah tidak lagi relevan di tengah arus modernitas. Harapan karena saya percaya, setiap budaya memiliki daya hidup yang tidak pernah benar-benar mati-ia hanya menunggu untuk dipanggil pulang.
Dongeng bukan sekadar hiburan masa lalu. la adalah literasi awal, fondasi berpikir, dan cermin karakter suatu wilayah. Dalam cerita rakyat, tersimpan filosofi hidup, tata nilai, dan identitas kolektif yang membentuk jati diri masyarakatnya. Ketika dongeng hilang, bukan hanya bahasa yang memudar, tetapi juga ingatan bersama tentang siapa kita sebenarnya. Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca




